Akar Kuno: Hajar dan Gerrha
Pada masa kuno, kawasan Al-Ahsa dikenal dengan nama "Hajar". Berbagai sumber sejarah menyebutkan bahwa wilayah ini merupakan salah satu pusat pemukiman dan perdagangan terpenting di timur Jazirah Arab.
Awal Islam: Delegasi Bani Abdul Qais dan Masjid Jawatha
Suku Abdul Qais merupakan penduduk utama Hajar. Diriwayatkan bahwa delegasi mereka datang menemui Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan memeluk Islam secara sukarela. Sebagai peninggalan dari peristiwa ini, dibangunlah Masjid Jawatha, yang dianggap sebagai salah satu masjid tertua dalam sejarah Islam.
Kekuasaan Qarmatiyah: Dari Hajar Menjadi Al-Ahsa
Pada akhir abad ke-3 Hijriah, gerakan Qarmatiyah muncul di kawasan ini. Pada awal abad ke-4 Hijriah, Abu Thahir Al-Jannabi membangun sebuah kota baru yang dinamai "Al-Ahsa".
Bani Jabr, Bani Khalid, dan Kekuasaan Utsmaniyah
Setelah itu, Al-Ahsa berturut-turut dikuasai oleh berbagai kekuatan lokal, sebelum akhirnya jatuh ke bawah kendali Kesultanan Utsmaniyah. Pada tahun 1080 H/1669 M, Barrak bin Ghurayr memimpin pemberontakan yang mengakhiri kehadiran Utsmaniyah di wilayah tersebut.
Bergabung dengan Negara Saudi Modern
Pada tahun 1331 H/1913 M, Raja Abdulaziz Al Saud memimpin pasukannya menuju Al-Ahsa dan berhasil mengusir garnisun Utsmaniyah dari Istana Ibrahim, sehingga Al-Ahsa resmi menjadi bagian dari Negara Saudi.
Era Modern: Minyak Bumi dan Warisan Dunia
Al-Ahsa memperoleh nilai ekonomi tambahan seiring dimulainya era minyak bumi. Puncaknya terjadi pada Juni 2018, ketika UNESCO menetapkan "Oasis Al-Ahsa" sebagai Situs Warisan Dunia.