Akropolis tidak bisa benar-benar dipahami terlepas dari mitos yang menjadi alasan pembangunannya. Setiap batu di sana menceritakan kisah persaingan ilahi yang menentukan nama dan identitas kota ribuan tahun lalu.

Pertarungan antara Athena dan Poseidon: Menurut legenda, dua dewa bersaing untuk menjadi pelindung kota yang masih muda ini: Poseidon, dewa laut, dan Athena, dewi kebijaksanaan. Poseidon menghantamkan trisulanya ke batu, menghasilkan mata air asin (atau, menurut versi lain, seekor kuda), sementara Athena menancapkan tombaknya ke tanah dan pohon zaitun pun tumbuh — simbol perdamaian dan kemakmuran. Penduduk kota memilih hadiah Athena karena lebih bermanfaat, dan kota itu pun mengambil namanya: Athena.

Erechtheion: menghormati yang kalah: Poseidon tidak dihapus dari ingatan keagamaan meski kalah; kuil Erechtheion dibangun di Akropolis khusus untuk menghormati kedua dewa bersama-sama, meredakan amarah Poseidon dan secara mitologis mencegahnya membanjiri kota. Kuil ini memiliki tiga bagian yang didedikasikan untuk Poseidon-Erechtheus (raja pendiri mitologis Athena), saudaranya Boutes, dan Hephaestus, dewa api dan pandai besi. Hingga kini, legenda menunjuk pada tiga lubang di lantai serambi utara yang dikatakan sebagai bekas hantaman trisula Poseidon, dan pohon zaitun di sisi barat yang diyakini keturunan dari pohon mitologis aslinya — titik foto favorit para pengunjung.

Serambi Caryatid: Bagian paling terkenal secara visual dari Erechtheion adalah serambi yang atapnya ditopang oleh enam patung wanita alih-alih kolom tradisional, dikenal sebagai Caryatid. Patung aslinya kini tersimpan di Museum Akropolis (kecuali satu yang dipindahkan ke British Museum di London), sementara replika semen identik telah berdiri di lokasi aslinya sejak 1977 untuk melindunginya dari polusi dan erosi.

Parthenon: rumah Athena sang perawan: Parthenon sendiri, kuil terbesar di Akropolis, didedikasikan untuk Athena Parthenos ("Sang Perawan"), dan awalnya menampung patung besar emas dan gading dirinya yang dipahat oleh seniman Phidias, yang kemudian hilang sepanjang sejarah. Kuil ini bukan sekadar arsitektur — ini adalah pernyataan batu atas kemenangan mitologis Athena, dan simbol identitas kota sebagai pusat kebijaksanaan dan seni.

Mengetahui kisah-kisah ini sebelum berkunjung mengubah jalan-jalan di Akropolis dari sekadar melihat reruntuhan batu menjadi pembacaan langsung atas mitos pendirian salah satu kota tertua di dunia.