Masjid Xiaodongying, yang secara harfiah berarti "Masjid Kamp Timur Kecil", terletak di sebuah gang tenang dengan nama yang sama, bercabang dari Jalan Yuehua yang terkenal di distrik bersejarah Yuexiu, Guangzhou, tak jauh berjalan kaki dari Masjid Abu Waqqas (Huaisheng) yang lebih tua dan lebih terkenal. Masjid ini termasuk dalam "Lima Masjid Besar" Guangzhou, namun karakternya cukup berbeda dari tetangga bersejarahnya itu: alih-alih menjadi landmark wisata megah, masjid ini berfungsi sebagai masjid lingkungan yang sederhana, melayani kebutuhan sehari-hari komunitas muslim setempat.
Masjid ini didirikan pada tahun 1468, tahun keempat pemerintahan Kaisar Chenghua dari Dinasti Ming, dan sejarahnya erat kaitannya dengan episode menarik pemukiman militer muslim. Han Yong, gubernur jenderal Guangdong dan Guangxi saat itu, membawa banyak pasukan dari Nanjing untuk memperkuat garnisun di Guangzhou, termasuk lebih dari seribu prajurit berdarah muslim Hui. Untuk mengatur tempat tinggal dan lahan pertanian mereka, pasukan ini dibagi menjadi empat kamp yang dikenal sebagai "Kamp Timur Besar", "Kamp Timur Kecil", "Kamp Barat", dan "Kamp Bambu". Masjid ini dibangun khusus untuk melayani para prajurit muslim yang ditempatkan di Kamp Timur Kecil, sehingga menjadi asal nama yang masih digunakan hingga kini, sebuah nama yang menyimpan kenangan akan kehadiran militer muslim awal di jantung Tiongkok selatan.
Selama berabad-abad, masjid ini mengalami beberapa kali renovasi yang menjaganya tetap aktif sebagai tempat ibadah yang hidup. Masjid ini direnovasi dua kali pada masa Dinasti Qing: pertama pada tahun 1817, tahun ke-20 pemerintahan Kaisar Jiaqing, dan kedua pada tahun 1866, tahun kelima pemerintahan Kaisar Tongzhi. Di era modern, tepatnya tahun 1998, masjid ini memperoleh status resmi sebagai tempat ibadah yang terdaftar dari otoritas terkait di Provinsi Guangdong. Kemudian pada tahun 2004, masjid ini menjalani renovasi menyeluruh yang didanai oleh Asosiasi Islam Guangzhou, dan dibuka kembali secara resmi pada tahun 2005 dengan tetap mempertahankan ciri arsitektur aslinya.
Secara arsitektur, masjid ini mengikuti gaya tradisional bangunan istana Tiongkok, dengan detail kayu, atap miring, dan kesederhanaan tenang yang menghindari ornamen berlebihan. Luas totalnya sekitar 600 meter persegi, termasuk ruang salat utama seluas sekitar 153 meter persegi yang dapat menampung sekitar 300 jamaah pada salat biasa. Meski ukurannya sederhana dibandingkan masjid-masjid besar kota ini, tempat ini menjadi cukup padat saat salat Jumat, dengan sekitar 1.300 jamaah setiap minggunya, angka yang mencerminkan vitalitas komunitas muslim di sekitarnya, meskipun masjid ini tenang pada hari-hari lain dalam seminggu.
Sepanjang sejarahnya, masjid ini memainkan peran yang jauh melampaui sekadar tempat salat harian. Pada era Republik awal abad ke-20, masjid ini menjadi tempat berdirinya beberapa perkumpulan sosial dan keagamaan muslim setempat, termasuk Asosiasi Pemuda Muslim Guangzhou dan perkumpulan saling bantu bagi komunitas Hui, yang menegaskan perannya sebagai pusat budaya dan organisasi komunitas, bukan sekadar tempat ibadah. Hingga kini, masjid ini terus menawarkan berbagai layanan keagamaan, termasuk pendidikan agama dasar dan tata cara pemakaman Islam bagi komunitas muslim Hui setempat, yang sebagian besar mengikuti praktik Sunni tradisional yang dikenal secara lokal sebagai "Gedimu". Di sekitar masjid tinggal sekitar seratus keluarga muslim, dengan jumlah total sekitar 300 jiwa.
Bagi pengunjung, Masjid Xiaodongying menawarkan pengalaman yang cukup berbeda dari kunjungan ke Masjid Abu Waqqas di dekatnya. Alih-alih menara menjulang dan halaman luas yang menarik wisatawan dari seluruh dunia, pengunjung di sini akan menemukan fasad sederhana yang tersembunyi di gang tenang jauh dari keramaian jalan utama, yang lebih mencerminkan kehidupan keagamaan sehari-hari warga setempat yang sederhana ketimbang monumen bersejarah yang megah. Oleh karena itu, pengunjung, baik muslim maupun non-muslim, disarankan untuk tetap tenang, menghormati privasi jamaah, berpakaian sopan, dan menghindari masuk atau memotret saat waktu salat kecuali untuk beribadah, karena tempat ini tetap berfungsi terutama sebagai masjid lingkungan yang hidup.
Masjid ini mudah dijangkau melalui Jalur MRT 1, turun di Stasiun Nongmin Yundong Jiangxisuo (Pintu Keluar D), serta beberapa jalur bus yang melewati halte Jalan Zhangbian di dekatnya. Lokasinya menjadikannya perpanjangan alami dari kunjungan ke kawasan muslim bersejarah di Yuexiu, di mana pengunjung dapat menggabungkan kunjungan ke sini dengan Masjid Abu Waqqas terdekat dalam satu rute, lalu melanjutkan ke Jalan Pejalan Kaki Beijing, salah satu pasar bersejarah terpenting di Guangzhou, atau ke Kuil Buddha kuno Guangxiao yang tak jauh dari sana. Bersama-sama, tempat-tempat ini menjadikan sudut kota yang tenang ini destinasi yang kaya akan keragaman agama dan budaya, serta jendela yang jujur menuju kehidupan sehari-hari komunitas muslim di Tiongkok selatan.
Masjid Xiaodongying
⭐ —
(0 penilaian)
·
Beri nilai tempat ini:
Masjid Xiaodongying di distrik Yuexiu, Guangzhou, dibangun tahun 1468, sebuah masjid lingkungan yang hidup yang menyimpan kenangan kamp militer muslim dan mencerminkan kehidupan sehari-hari komunitas Hui setempat.
📍 1 Jalan Xiaodongying, Jalan Yuehua, Distrik Yuexiu, Guangzhou
Tempat serupa
Zhujiang New Town
📍 Huacheng Avenue, Tianhe District, Guangzhou (320 meters walk from Exit C of Liede Subway Station)
Masjid Huaisheng
📍 56 Jalan Guangta, Distrik Yuexiu, Guangzhou
Huacheng Square (Alun-Alun Kota Bunga)
📍 Huacheng Square, Tianhe District, Guangzhou (200 meters walk from Exit A of Huangpu Avenue Subway Station)
Masjid Abu Waqqas
📍 210-11 Jalan Huanshi Barat, Distrik Yuexiu, Guangzhou
💬 Komentar
Belum ada komentar — jadilah yang pertama berbagi pengalaman!