Kekhawatiran mencari makanan halal adalah salah satu perhatian utama wisatawan Muslim saat merencanakan destinasi baru, terutama di negara non-Muslim. Dengan sedikit persiapan, hal ini jauh lebih mudah dari yang terlihat.

1. Unduh aplikasi khusus sebelum bepergian

Zabihah adalah aplikasi global tertua dan paling lengkap untuk restoran halal yang diulas pengguna. HalalTrip menambahkan lokasi masjid dan waktu salat di samping daftar restoran. Muslim Pro juga menyediakan penunjuk arah kiblat dan waktu salat, keduanya berguna saat bepergian. Unduh peta offline aplikasi ini sebelum berangkat untuk mengantisipasi koneksi internet yang lemah.

2. Pelajari tanda sertifikasi halal setempat

Setiap negara punya lembaga sertifikasi berbeda: Malaysia menggunakan logo JAKIM, Indonesia menggunakan tanda MUI berwarna hijau, Singapura menggunakan MUIS, dan Turki menggunakan sertifikat Bulan Sabit Merah atau GİMDES. Di negara Barat, cari stiker "Halal Certified" dari lembaga terpercaya seperti IFANCA di Amerika Utara atau HFA di Eropa. Jangan pernah menganggap kata "halal" di papan nama sudah cukup tanpa mengetahui siapa yang mensertifikasi.

3. Destinasi mudah: negara mayoritas Muslim

Di Turki, Malaysia, Indonesia, UEA, Qatar, Mesir, dan Maroko, makanan halal secara default di sebagian besar restoran, dan pengecualian disebutkan secara eksplisit (seperti hotel wisata tertentu yang menyajikan alkohol). Satu-satunya tantangan nyata adalah memastikan alkohol tidak digunakan dalam masakan di beberapa restoran kelas atas yang melayani wisatawan Barat.

4. Destinasi lebih sulit: Eropa, Amerika, Asia Timur

Di kota non-Muslim, restoran Turki, Pakistan, Afghanistan, dan Timur Tengah biasanya menjadi pilihan yang relatif aman, karena pemiliknya sering kali Muslim dan memasak secara tradisional bahkan tanpa sertifikasi resmi — tetapi selalu tanyakan dengan jelas. Di Jepang dan Korea, cari restoran "bersertifikat halal" yang jumlahnya terus bertambah di dekat area wisata utama, atau andalkan restoran vegetarian dan makanan laut sebagai cadangan yang relatif aman (dengan tetap waspada terhadap kecap asin yang terkadang mengandung alkohol hasil fermentasi).

5. Aturan emas saat ragu

Tanyakan langsung: "Apakah Anda menggunakan daging babi atau alkohol dalam masakan?" Beberapa hidangan Asia mengandung arak masak atau saus ikan fermentasi yang tidak tercantum jelas di menu. Waspadai gelatin (sering berasal dari babi) dalam makanan penutup dan permen kenyal, serta ekstrak vanili asli yang mengandung alkohol. Makanan vegan murni selalu menjadi pilihan aman saat ragu.

6. Berbelanja di supermarket

Di kota besar mana pun, cari supermarket Turki, Pakistan, atau Arab — tersedia di sebagian besar ibu kota Eropa dan Amerika utama, menjual daging dan produk bersertifikat halal, seringkali lebih murah dari restoran. Ini juga pilihan sangat baik bagi keluarga yang ingin menyiapkan makanan cepat di kamar hotel.

7. Hubungi hotel dan maskapai lebih awal

Saat memesan, minta makanan halal maskapai (Muslim Meal / MOML) setidaknya 24-48 jam sebelum penerbangan. Hubungi hotel lebih dulu untuk menanyakan pilihan sarapan halal, karena beberapa hotel besar menawarkan menu alternatif atas permintaan.

8. Tanyakan komunitas setempat

Masjid terdekat sering menjadi sumber informasi terbaik — imam dan jamaah setempat biasanya tahu restoran halal paling terpercaya di area tersebut, dan sering ada grup WhatsApp atau Facebook komunitas Muslim setempat yang berbagi rekomendasi yang terus diperbarui.

Makanan halal kini tersedia di hampir setiap benua — yang dibutuhkan hanyalah sedikit persiapan sebelum bepergian dan keberanian untuk bertanya langsung begitu sampai di sana.