Untuk memahami Kuwait hari ini, ada baiknya mengetahui bahwa identitas nasionalnya terbentuk melalui dua jalur paralel: sejarah perdagangan maritim panjang yang mendahului minyak berabad-abad, dan satu peristiwa modern yang menentukan — invasi dan pembebasan — yang membentuk ulang kesadaran nasional Kuwait hingga ke intinya.

Sebelum minyak ditemukan, Kuwait adalah kota perdagangan dan maritim, ekonominya dibangun di atas penyelaman mutiara dan perdagangan laut lintas Teluk. Souq Al-Mubarakiya — yang masih berdiri hingga kini dengan usia lebih dari 200 tahun — adalah jantung ekonomi tersebut, pusat pertukaran barang antara Kuwait, Iran, India, dan Afrika Timur. Keamiran ini didirikan di bawah keluarga Al-Sabah, yang masih memerintah Kuwait hingga hari ini, dan kesinambungan politik lintas generasi ini menjadi bagian utama identitas Kuwait.

Pada 19 Juni 1961, Inggris mengakui kemerdekaan Kuwait, menjadikannya salah satu negara Teluk pertama yang meraih kedaulatan penuh. Kemerdekaan itu tidak lepas dari gesekan — hanya dalam hitungan hari Irak memperbarui klaim teritorialnya atas Kuwait, klaim yang ditolak lebih dulu oleh pasukan Inggris lalu Liga Arab. Irak baru secara resmi mengakui kemerdekaan dan perbatasan Kuwait pada Oktober 1963, di bawah pemerintahan Irak yang baru.

Peristiwa paling menentukan dalam ingatan modern Kuwait terjadi pada 2 Agustus 1990, ketika pasukan Irak menginvasi dan menduduki Kuwait hanya dalam hitungan jam, dengan kekuatan sekitar 100.000 tentara. Invasi itu memicu embargo Dewan Keamanan PBB dan sanksi internasional, diikuti perang pembebasan yang dipimpin koalisi internasional pimpinan AS beranggotakan sekitar 42 negara dan sekitar 650.000 tentara. Kampanye militer dimulai pada 16 Januari 1991 dan berakhir dengan kekalahan pasukan Irak serta penarikan mereka dari Kuwait pada 28 Februari 1991, setelah sebagian besar dari sekitar 500.000 tentara Irak menyerah.

Peristiwa itu meninggalkan jejak mendalam pada identitas nasional Kuwait yang masih terlihat hingga kini: 25 Februari adalah Hari Nasional dan 26 Februari adalah Hari Pembebasan, dirayakan bersama setiap tahun dengan perayaan besar di seluruh negeri. Liberation Tower, salah satu landmark paling dikenali di cakrawala Kuwait City, dinamai untuk mengenang peristiwa itu, dan menjadi pemandangan yang tak terlewatkan bagi siapa pun yang berjalan di pusat kota atau sepanjang tepi laut.

Secara sosial, Kuwait hari ini masih membawa benang budaya yang mencerminkan perpaduan sejarah perdagangan lama dengan modernitas era minyak. Diwaniya — pertemuan sosial tempat para pria berkumpul untuk berdiskusi dan bertukar kabar — tetap menjadi bagian hidup dari kehidupan sosial Kuwait, keramahan dianggap nilai inti, dan kehangatan khusus terhadap pengunjung dari Teluk adalah sesuatu yang akan disadari langsung oleh wisatawan Saudi atau Teluk mana pun. Memahami benang ini — dari pelabuhan dagang dan mutiara, kemerdekaan awal, hingga ketangguhan 1990-1991 — memberi Anda lensa yang lebih dalam untuk memahami segala yang Anda lihat di jalanan Kuwait hari ini.