Berjalan menyusuri gang-gang Al-Balad, distrik bersejarah Jeddah, hal pertama yang menarik perhatian bukanlah bangunannya, melainkan jendela kayu berukir yang menonjol dari fasad batu karang. Inilah roshan — jauh lebih dari sekadar hiasan, ini adalah solusi rekayasa cerdas yang dikembangkan masyarakat Hijaz untuk menghadapi iklim pesisir yang panas dan lembap jauh sebelum era pendingin udara.
Kata "roshan" berasal dari bahasa Persia "rowzan," yang berarti jendela atau balkon — asal-usul yang cocok untuk kota pelabuhan bersejarah tempat bertemunya budaya dari Jazirah Arab, Afrika Timur, Levant, Persia, dan Kesultanan Utsmaniyah, mengingat peran Jeddah sebagai gerbang laut resmi bagi jamaah haji menuju Mekah sejak abad ke-7.
Secara fungsional, roshan bekerja sebagai penyaring cahaya dan udara: panel kayu berkisi-kisinya membiarkan angin laut masuk dan meredakan panas di dalam rumah, sekaligus menghalangi sinar matahari langsung dan menjaga privasi penghuni — terutama perempuan — dari orang yang lewat di gang sempit. Sebagian roshan dihiasi kaca berwarna kecil yang memberi cahaya puitis saat matahari terbenam.
Setiap roshan dibuat dengan tangan, biasanya dari kayu jati impor, diukir dengan pola geometris presisi, dan dirakit menggunakan sambungan tradisional tanpa paku — keahlian yang diwariskan turun-temurun oleh tukang kayu lokal. Variasinya meliputi "musammat" yang menonjol sederhana, "bariz" yang lebih rumit dan halus, serta "roshan berbalkon" yang menyerupai teras kecil menggantung.
Gaya arsitektur khas ini — memadukan pengaruh Arab, Utsmaniyah, Persia, dan India dalam apa yang dikenal sebagai gaya Hijazi — mendorong UNESCO memasukkan Jeddah Bersejarah ke dalam Daftar Warisan Dunia pada 21 Juni 2014, menjadikannya situs Warisan Dunia ketiga Arab Saudi. Al-Balad kini memiliki lebih dari 650 bangunan bersejarah, banyak berusia 200 hingga 300 tahun, dengan dinding dari batu karang dan batu "manqabi" yang diambil dari dasar Laut Merah.
Dalam beberapa tahun terakhir, Arab Saudi meluncurkan program restorasi besar untuk menghidupkan kembali Al-Balad, dimulai tahun 2019 di bawah naungan Putra Mahkota, dengan biaya lebih dari 13,3 juta dolar pada tahap pertama untuk merestorasi 56 bangunan bersejarah.
Jika Anda berencana berkunjung, pilih waktu sore hari saat jendela roshan menyala dan udara mulai sejuk. Cari rumah-rumah ikonik seperti Bait Nassif dan Bait Baghdadi, contoh terbaik yang masih terjaga dari gaya arsitektur ini.
💬 Komentar
Belum ada komentar — jadilah yang pertama berbagi pengalaman!