Sebelum Interlaken identik dengan paralayang dan kereta pegunungan, ia adalah desa tenang yang tumbuh di sekitar biara abad ke-12 yang menyandang namanya saat ini — Interlaken secara harfiah berarti "di antara danau-danau", merujuk pada posisinya di antara Danau Thun dan Danau Brienz. Biara yang didirikan oleh biarawan Augustinian sekitar tahun 1130 itu menjadi pusat keagamaan dan pertanian selama berabad-abad sebelum perannya berubah total pada awal abad ke-19.

Kelahiran wisata alpen. Pada awal 1800-an, wisatawan Eropa kaya, terutama orang Inggris, mulai menemukan keindahan Bernese Oberland, dan menganggap Interlaken sebagai basis ideal untuk perjalanan ke pegunungan. Penyair Inggris Lord Byron mengunjungi wilayah ini dan menulis tentangnya, dan tulisannya bersama catatan wisatawan lain membantu menempatkan Interlaken di peta wisata Eropa awal. Pada pertengahan abad, hotel-hotel megah mulai dibangun di sepanjang Höheweg, banyak di antaranya masih berdiri hingga kini dengan fasad bersejarahnya.

Unspunnenfest: tradisi yang hidup. Salah satu ekspresi paling mencolok dari pelestarian warisan lokal adalah Unspunnenfest, perayaan rakyat tradisional yang diadakan di padang dekat desa Unspunnen dekat Interlaken, menampilkan kompetisi lempar batu tradisional Swiss, gulat rakyat ("Schwingen"), musik alpen, dan alphorn panjang. Festival ini tidak diadakan setiap tahun tetapi pada interval tidak teratur yang kadang mencapai dua dekade, menjadikan kehadirannya pengalaman langka yang terkait dengan memori kolektif masyarakat Swiss lokal; asal-usulnya berasal dari perkumpulan awal abad ke-19 yang merayakan solidaritas antarwilayah Swiss.

Rel kereta yang mengubah segalanya. Pada tahun 1912, rel kereta Jungfraubahn selesai dibangun, digali dengan tangan oleh para pekerja melalui batu Gunung Eiger — sebuah pencapaian rekayasa luar biasa yang memakan waktu 16 tahun kerja keras dalam kondisi berat. Jalur ini, yang membuat Jungfraujoch dapat dijangkau oleh pengunjung mana pun tanpa harus mendaki, secara permanen mengubah Interlaken dari sekadar titik transit menjadi destinasi wisata kelas dunia tersendiri.

Interlaken hari ini. Meski mengalami modernisasi besar akibat pariwisata, kota ini tetap mempertahankan karakter arsitektur Swiss tradisionalnya, dari chalet kayu hingga hotel bersejarah yang menghadap padang Höhematte, sementara olahraga petualangan modern seperti paralayang telah menjadi bab baru dalam kisah panjang yang dimulai dengan para biarawan dan berlanjut dengan para pencari sensasi dari seluruh dunia.