Pasar Qaisariya di jantung kota Al-Hofuf bukan sekadar jalan perbelanjaan biasa — tempat ini termasuk dalam Situs Warisan Dunia UNESCO, terdaftar pada 2018 sebagai bagian dari kawasan Oasis Al-Ahsa. Sejarahnya bermula sekitar tahun 1822 (1237 H), dan namanya "Qaisariya" (bermakna "Imperial" atau "Kekaisaran") mencerminkan tata letak asalnya dari era Ottoman, sebelum dibangun ulang secara lebih besar pada 1334 H (sekitar 1916) di masa Raja Abdulaziz Al Saud setelah kebakaran besar. Pasar ini membentang seluas sekitar 7.000 meter persegi, dengan 14 gerbang yang mengarah ke lebih dari 422 toko di bawah atap kayu berukir dan lorong beratap yang melindungi pengunjung dari sengatan matahari. Berikut yang perlu diketahui sebelum berkunjung:

  1. Pilih waktu yang tepat. Waktu terbaik adalah pagi hari (setelah pukul 9) atau sore dari waktu Asar hingga Isya. Sebagian besar toko tutup saat tengah hari dan pada waktu salat, dan pasar hampir seluruhnya tutup sekitar satu jam setelah salat Jumat.
  2. Cicipi sebelum membeli. Al-Ahsa adalah rumah bagi oasis kurma terbesar di dunia, dengan lebih dari 2,5 juta pohon kurma, dan terkenal dengan varietas seperti Khalas, Reziz, Shishi, dan Umm Raheem. Sebagian besar pedagang dengan senang hati mengizinkan Anda mencicipi sebelum membeli dalam jumlah besar.
  3. Musim panen (Agustus–September) adalah waktu terbaik. Jika perjalanan Anda jatuh pada bulan-bulan ini, pasar kurma khusus di kota akan dipenuhi stok segar dengan harga yang jauh lebih baik dibanding waktu lain sepanjang tahun.
  4. Jangan hanya fokus pada kurma. Pasar ini memiliki bagian terpisah untuk emas dan perak, kain serta abaya bordir tangan, kerajinan tembaga dan gerabah tradisional, serta roti merah Hassawi yang terkenal, dipanggang dalam oven tanah liat langsung di dalam pasar — patut dicoba selagi hangat.
  5. Tawar-menawar adalah hal biasa, dalam batas wajar. Di bagian kerajinan dan suvenir, diskon 10–20% dari harga yang diminta adalah normal. Di kios kurma dan makanan, marginnya sudah tipis, jadi tawar-menawar keras di sana cenderung kurang berhasil.
  6. Bawa uang tunai. Banyak toko kecil di gang-gang lama masih lebih menyukai pembayaran tunai atau kartu mada dibanding kartu internasional, meski hal ini perlahan berubah. ATM tersedia di dekat gerbang utama.
  7. Perhatikan etika memotret. Memotret arsitektur dan lorong pasar tidak masalah, tetapi mintalah izin sebelum memotret pedagang atau pembeli dari dekat, terutama warga lanjut usia yang mungkin lebih memilih tidak difoto.
  8. Area parkir cepat penuh. Lahan parkir terdekat berada di sekitar gerbang utama di distrik Al-Rafa, dan ramai pada sore hari serta akhir pekan — datang lebih awal menghemat waktu mencari tempat parkir.
  9. Gabungkan dengan Istana Ibrahim. Benteng bersejarah ini hanya beberapa menit berjalan kaki dari pasar, sehingga kedua tempat bisa dikunjungi dalam satu kali jalan-jalan pagi atau sore.
  10. Hindari keramaian Ramadan dan Idul Fitri jika ingin suasana tenang. Pasar menjadi sangat ramai dan meriah menjelang waktu berbuka dan setelah salat tarawih — suasananya menyenangkan, tetapi kurang cocok bagi yang ingin berbelanja santai.
  11. Tanyakan asal produk. Beberapa barang "khas daerah" yang dipajang sebenarnya barang impor, sementara gerabah dan kerajinan pelepah kurma asli berasal dari desa-desa sekitar Al-Ahsa seperti Al-Qarain dan Al-Mutayrafi. Jika keaslian penting bagi Anda, tanyakan langsung kepada pedagang.
  12. Pelajari beberapa kata dalam dialek Hassawi. Penduduk Al-Ahsa berbicara dengan dialek lokal khas dalam keluarga besar bahasa Arab Teluk. Sapaan sederhana dan senyuman tulus sering kali membuka pelayanan yang lebih hangat — dan terkadang diskon tambahan.

Pasar Qaisariya lebih memuaskan bagi pengunjung yang memperlakukannya sebagai pengalaman berbelanja sungguhan, bukan sekadar berhenti untuk berfoto. Luangkan waktu, dan bersiaplah pulang membawa kantong-kantong kurma serta lebih banyak cerita daripada sekadar oleh-oleh.