Masakan khas Milan berbeda dari citra stereotip makanan Italia selatan: lebih sedikit mengandalkan tomat, dan lebih condong ke mentega, nasi, serta daging yang dimasak perlahan — warisan iklim Lembah Po yang relatif dingin dan kedekatan historisnya dengan Austria dan Swiss. Berikut sepuluh hidangan yang layak masuk jadwal makan Anda, lengkap dengan catatan praktis bagi yang mencari pilihan halal.

1. Risotto alla Milanese

Hidangan paling terkenal di kota ini: nasi dimasak perlahan dalam kaldu, dengan safron yang memberinya warna keemasan khas dan rasa earthy yang ringan. Biasanya disajikan sebagai hidangan utama atau pendamping ossobuco.

2. Cotoletta alla Milanese

Potongan daging sapi muda (veal) bertulang, dilapisi remah roti dan digoreng dalam mentega murni hingga keemasan dan renyah di luar, empuk di dalam. Catatan: hidangan ini mengandalkan daging sapi muda dan mentega, jadi relatif mudah menemukan versi halalnya jika Anda menanyakan sumber dagingnya.

3. Ossobuco

Kaki sapi muda dimasak perlahan dalam anggur putih dan kaldu hingga dagingnya lepas dari tulang, dihias dengan gremolata (kulit lemon, bawang putih, peterseli). Secara tradisional disajikan dengan risotto safron. Perhatikan bahwa resep aslinya menggunakan anggur putih dalam memasak, jadi tanyakan jika itu penting bagi Anda.

4. Panettone

Kue Natal Italia yang terkenal di dunia ini lahir khusus di Milan, menjadi simbol kota sebelum menyebar ke seluruh dunia. Jika Anda berkunjung menjelang akhir tahun, cobalah versi dari toko roti lokal, bukan hanya jenis yang dikemas secara komersial.

5. Cassœula

Hidangan musim dingin yang berat berupa daging babi dan kubis yang dimasak perlahan bersama — hidangan warisan yang otentik, tetapi tidak cocok bagi yang menghindari daging babi, jadi selalu periksa bahannya sebelum memesan.

6. Busecca

Hidangan jeroan (tripe) sapi yang dimasak secara tradisional, kurang terkenal di kalangan wisatawan tetapi masih kuat hadir di dapur keluarga lama, bagi siapa saja yang ingin pengalaman makanan lokal otentik di luar menu wisata.

7. Panino con Cotoletta

Versi jalanan dari cotoletta, disajikan di dalam roti sebagai makanan cepat, banyak ditemukan di kedai-kedai kecil di sekitar pusat kota.

8. Gelato Artisanal

Bukan hidangan eksklusif Milan, tetapi kota ini memiliki toko gelato artisanal yang sangat baik, dan aturan emas untuk mengenalinya: hindari warna yang terlalu cerah dan mencolok — gelato alami biasanya memiliki warna yang lebih redup.

9. Aperitivo dan Camilan Pendampingnya

Bukan satu hidangan, melainkan pengalaman utuh: minuman malam hari disertai aneka camilan gratis atau hampir gratis. Tanyakan langsung kepada pelayan apakah ada pilihan bebas babi atau bebas alkohol di antara camilannya, karena beberapa tempat menyiapkan set aperitivo vegetarian penuh atas permintaan.

10. Kopi Cepat ala Milan

Bukan hidangan, melainkan kebiasaan: orang Italia minum espresso sambil berdiri di bar dalam satu-dua menit, dan harganya sering lebih murah dibanding duduk di meja untuk cangkir yang sama.

Tempat Mencari Makanan Halal di Milan

Kawasan Piazzale Loreto dan sekitarnya memiliki kepadatan tertinggi restoran halal yang beragam: koshari Mesir, tagine dan couscous Maroko, biryani dan tandoori Asia Selatan, serta hidangan tradisional Eritrea. Di sepanjang Via Padova, Anda akan menemukan restoran seperti "Spice Village," Pakistan/India Utara dengan daging bersertifikat halal, dengan harga sering berkisar antara €8 dan €15 per porsi. Di Via Paolo Sarpi, restoran India menyajikan kari dan biryani halal dalam suasana nyaman. Aplikasi pesan-antar lokal juga sering memungkinkan Anda memfilter restoran berdasarkan "halal."

Kesimpulannya: Milan adalah kota kuliner yang jauh lebih beragam dari yang dibayangkan banyak orang, dan menemukan pilihan halal yang lezat bukan tantangan besar jika Anda tahu ke mana harus mencari.